Kapanewon Playen

Kapanewon Playen adalah salah satu dari 18 kapanewon di Kabupaten Gunungkidul. Pusat wilayahnya berada sekitar 5,5 km di sebelah barat ibu kota kabupaten. Jaraknya yang dekat membuat Playen mudah dijangkau dari Wonosari maupun dari arah Yogyakarta.

Gambaran Wilayah dan Letak

Playen berada di jalur barat menuju Wonosari dengan kode pos 55861. Mayoritas penduduknya bekerja di sektor pertanian. Para petani dan pelaku usaha kecil menjadi penggerak ekonomi setempat.

Dari Yogyakarta, jalan raya Yogyakarta Wonosari melewati Patuk lebih dulu sebelum masuk ke Playen. Setelah itu jalan terus menuju pusat kota Wonosari. Rute ini membuat Playen mudah dijadikan titik berhenti di tengah perjalanan.

Wilayah ini berbatasan dengan Kapanewon Patuk dan Kapanewon Gedangsari di sisi utara. Di timur ada Kapanewon Wonosari. Letak ini membuat Playen cocok dijadikan jalur lintas antara Patuk, Wonosari, dan Gedangsari.

Daftar Kalurahan

Playen terdiri dari 13 kalurahan. Namanya Banaran, Bandung, Banyusoco, Bleberan, Dengok, Gading, Getas, Logandeng, Ngawu, Ngleri, Ngunut, Playen, dan Plembutan.

Kalurahan Ngunut mendapat perhatian pada Agustus 2024. Wilayah ini dicanangkan sebagai Desa Cantik, program Badan Pusat Statistik untuk memperkuat pengelolaan data desa.

Air Terjun Sri Gethuk di Bleberan

Air Terjun Sri Gethuk berada di Dusun Menggoran, Kalurahan Bleberan. Untuk mencapainya, sobat jalan jalan menyusuri Sungai Oya sejauh sekitar 450 meter dengan rakit gethek atau perahu karet. Pengalaman naik rakit ini menjadi daya tarik yang membedakan Sri Gethuk dari air terjun lain.

Air terjun ini bersumber dari tiga mata air dan tetap mengalir saat kemarau. Airnya jernih sehingga pengunjung bisa berenang atau mencoba body rafting. Pembahasan lengkapnya ada di artikel Air Terjun Sri Gethuk.

Tiket masuk berkisar Rp10 ribu sampai Rp15 ribu, sedangkan rakit sekitar Rp10 ribu. Angka ini bisa berbeda tiap sumber dan berubah sewaktu waktu. Konfirmasi dulu di lokasi sebelum berangkat.

Hutan Wanagama

Hutan Wanagama adalah hutan pendidikan dan penelitian seluas 600 hektare milik Fakultas Kehutanan UGM. Pengembangannya dimulai sejak 1964 pada lahan yang dahulu kritis. Kini kawasan ini menjadi tempat praktik mahasiswa dan penelitian konservasi.

Di dalamnya tercatat lebih dari 1.000 jenis flora dan lebih dari 40 jenis fauna. Terdapat pula sedikitnya lima mata air yang mengalir sepanjang tahun. Pengunjung umum dapat memanfaatkannya untuk wisata edukasi, kemah, dan kegiatan luar ruang.

Penginapan dan ruang pertemuan juga tersedia di kawasan ini. Hubungi pengelola lebih dulu agar jadwal kunjungan sesuai. Cara ini penting karena sebagian area dipakai untuk kegiatan penelitian.

Hal Unik Lain

Kalurahan Gading dikenal memiliki lahan Lapangan Udara Gading. Keberadaan lapangan ini jarang disebut dalam daftar wisata, tetapi menjadi ciri khas wilayah Playen. Sobat jalan jalan yang suka mengamati tata ruang daerah bisa menjadikannya bahan cerita.

Tips Berkunjung

Bawa pakaian ganti dan alas kaki yang aman di air bila berencana ke Sri Gethuk. Saat musim hujan, debit Sungai Oya bisa naik. Periksa kondisi sungai dengan pengelola sebelum naik rakit.

Untuk Wanagama, bawa air minum dan perlengkapan hujan. Kawasan hutannya luas, sehingga rute sebaiknya diatur bersama pengelola.

Rencana Perjalanan Singkat

Mulailah dari Sri Gethuk pada pagi hari, saat cuaca masih sejuk dan sungai belum ramai. Lanjutkan ke Hutan Wanagama menjelang siang untuk berjalan santai di bawah pepohonan. Sore harinya, sobat jalan jalan bisa kembali ke Wonosari untuk makan dan beristirahat.

Kapanewon Terdekat dari Playen

Kapanewon Patuk berada di utara dan terkenal dengan Gunung Api Purba Nglanggeran. Kapanewon Gedangsari juga di sisi utara dan memiliki Air Terjun Luweng Sampang serta Gunung Gentong. Kapanewon Wonosari di timur menjadi pusat kota dan kuliner.

Playen cocok untuk sobat jalan jalan yang menyukai wisata air dan hutan. Kawasannya tidak terlalu jauh dari pusat kota, sehingga cocok dijadikan tujuan setengah hari. Saya menyarankan berangkat pagi agar waktu di Sungai Oya dan Wanagama tidak terburu-buru.

Artikel Terkait